‘We Take Action”
Kami
Ber-Aksi
Aktifitas seni rupa pada
tahun 1970 an belum mengenal metode dan proses kuratorial. Ketika Gerakan Seni
Rupa Baru (GSRB) indonesia digulirkan tahun 1974 hingga tahun 1979 pada tahun
itu berhasil mengunjang pemikiran dan penciptaan karya seni rupa. (kuasa Rupa Kuasa Negara) Suwarno
Wisetrotomo 2021
Perkembangan
seni rupa Indonesia pada sekitar tiga dekade terakhir (sekitar tahun 1980-an
hingga tahun 2000-an) ditandai oleh maraknya penciptaan karya seni rupa dengan
berbagai material, Teknik, beragam gagasan dan ideologi.
Seiring
dengan dengan situasi penciptaan karya yang marak itu banyak pihak antara lain
kelompok-kelompok yang di bentuk secara temporary bermacam organisasi
penyelenggara pameran (event Organizer) bersemangat menyelenggarakan pameran
dalam skala lokal.
Penciptaan
karya seni rupa terus terjadi dengan berbagai bentuk, gaya, corak, eksplorasi
material dan Teknik yang semakin tak terbatas dengan literasi, pembacaan yang
liar dan campur aduk, kondisi tersebut memengaruhi mobilitas karier para
perupa, bisa melambung tinggi dan Meletus berkesempatan memasuki ruang -ruang
presentasi (pameran) di berbagai tempat dan berbagai skala nasional atau
sebaliknya jatuh didasar jurang dan sulit bangkit lagi.
Seni
bukan sekadar hiasan visual; ia adalah cermin batin manusia yang merefleksikan
kompleksitas emosi, pemikiran, dan perjalanan spiritual. Melalui pameran "We
Take Action” (Kami Ber-Aksi) seni menjadi jendela yang membuka akses ke
aspek tersembunyi dalam diri kita, yang sering kali sulit diungkapkan dengan
kata-kata. Setiap goresan kuas, setiap warna yang dipilih, dan setiap detail
dalam karya seni mengandung suara-suara batin yang mencerminkan kegembiraan,
kesedihan, ketidakpastian, dan kebijaksanaan manusia.
Pada
saat yang sama terasa semakin sulit pula mendapati karya seni rupa yang “Kuat”,
bertolak dari gagasan, konsep, tema yang kuat dan menggangu (daya ganggu) serta
menunjukan keterampilan teknis yang memukau (daya pukau) dan menunjukan
orinetasi keberpihakan atau menunjukan nilai-nilai “tertentu”.
Seni
memiliki kemampuan unik untuk merangkul dan mengekspresikan esensi mendalam
dari manusia. Dalam perjalanan panjang sejarah manusia, seni telah menjadi
bahasa universal yang membuka pintu ke dalam keberagaman pengalaman batin dan
emosi manusia. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang semakin terkoneksi,
pameran seni dengan tema “We Take Action” (Kami Ber-aksi), menjadi
rujukan untuk merenung tentang makna mendalam di balik karya seni, serta
menggali kedalaman jiwa manusia melalui sentuhan warna, bentuk, dan
interpretasi.
Hadirnya
gagasan pameran Bersama (mandiri) merupakan kegelisahan, kekhawatiran para
perupa untuk prenstasi karya yang sudah lama berproses namun tak kunjung datang
untuk bisa diapresiasi oleh masyarakat luas, kegelisahan ini memacu kita untuk
berbuat dalam rangkaian presentasi karya (Pameran) dengan segala kemampuan
skill, Teknik dengan berbagai material yang ada.
Presentasi
karya Ini kali kami menyuguhkan tema sosial, budaya, politik, sepiritual,
religious disekitar kita saat ini, dengan mengangkat tema “We Take Action”
(Kami Ber-aksi) dalam pengertian aksi dalam karya seni, seni Bahasa universal
dengan daya ungkap persoalan-persoalan yang terjadi.
Mencoba
keluar dari zona nyaman tentang kekaryaan dan konsep visual yang membosankan,
interaksi apresiasi dan karya seni sangat penting untuk mengedukasi apresiator
menjadi lebih cerdas mensikapi, mendalami konsep kekaryaan.
Bandar Lampung, 3 Juni 2025
David
Penggiat seni rupa

Komentar
Posting Komentar