Seniman: David, 
      Judul karya: Merawat kebangsaan, 
      Media: Akrilik on kanvas, 
      200 X 150 cm, 
      2025



‘We Take Action”

Kami Ber-Aksi

Aktifitas seni rupa pada tahun 1970 an belum mengenal metode dan proses kuratorial. Ketika Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) indonesia digulirkan tahun 1974 hingga tahun 1979 pada tahun itu berhasil mengunjang pemikiran dan penciptaan karya seni rupa. (kuasa Rupa Kuasa Negara) Suwarno Wisetrotomo 2021

Perkembangan seni rupa Indonesia pada sekitar tiga dekade terakhir (sekitar tahun 1980-an hingga tahun 2000-an) ditandai oleh maraknya penciptaan karya seni rupa dengan berbagai material, Teknik, beragam gagasan dan ideologi.

Seiring dengan dengan situasi penciptaan karya yang marak itu banyak pihak antara lain kelompok-kelompok yang di bentuk secara temporary bermacam organisasi penyelenggara pameran (event Organizer) bersemangat menyelenggarakan pameran dalam skala lokal.

Penciptaan karya seni rupa terus terjadi dengan berbagai bentuk, gaya, corak, eksplorasi material dan Teknik yang semakin tak terbatas dengan literasi, pembacaan yang liar dan campur aduk, kondisi tersebut memengaruhi mobilitas karier para perupa, bisa melambung tinggi dan Meletus berkesempatan memasuki ruang -ruang presentasi (pameran) di berbagai tempat dan berbagai skala nasional atau sebaliknya jatuh didasar jurang dan sulit bangkit lagi.

Seni bukan sekadar hiasan visual; ia adalah cermin batin manusia yang merefleksikan kompleksitas emosi, pemikiran, dan perjalanan spiritual. Melalui pameran "We Take Action” (Kami Ber-Aksi) seni menjadi jendela yang membuka akses ke aspek tersembunyi dalam diri kita, yang sering kali sulit diungkapkan dengan kata-kata. Setiap goresan kuas, setiap warna yang dipilih, dan setiap detail dalam karya seni mengandung suara-suara batin yang mencerminkan kegembiraan, kesedihan, ketidakpastian, dan kebijaksanaan manusia.

Pada saat yang sama terasa semakin sulit pula mendapati karya seni rupa yang “Kuat”, bertolak dari gagasan, konsep, tema yang kuat dan menggangu (daya ganggu) serta menunjukan keterampilan teknis yang memukau (daya pukau) dan menunjukan orinetasi keberpihakan atau menunjukan nilai-nilai “tertentu”.

Seni memiliki kemampuan unik untuk merangkul dan mengekspresikan esensi mendalam dari manusia. Dalam perjalanan panjang sejarah manusia, seni telah menjadi bahasa universal yang membuka pintu ke dalam keberagaman pengalaman batin dan emosi manusia. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang semakin terkoneksi, pameran seni dengan tema “We Take Action” (Kami Ber-aksi), menjadi rujukan untuk merenung tentang makna mendalam di balik karya seni, serta menggali kedalaman jiwa manusia melalui sentuhan warna, bentuk, dan interpretasi.

Hadirnya gagasan pameran Bersama (mandiri) merupakan kegelisahan, kekhawatiran para perupa untuk prenstasi karya yang sudah lama berproses namun tak kunjung datang untuk bisa diapresiasi oleh masyarakat luas, kegelisahan ini memacu kita untuk berbuat dalam rangkaian presentasi karya (Pameran) dengan segala kemampuan skill, Teknik dengan berbagai material yang ada.

Presentasi karya Ini kali kami menyuguhkan tema sosial, budaya, politik, sepiritual, religious disekitar kita saat ini, dengan mengangkat tema “We Take Action” (Kami Ber-aksi) dalam pengertian aksi dalam karya seni, seni Bahasa universal dengan daya ungkap persoalan-persoalan yang terjadi.

Mencoba keluar dari zona nyaman tentang kekaryaan dan konsep visual yang membosankan, interaksi apresiasi dan karya seni sangat penting untuk mengedukasi apresiator menjadi lebih cerdas mensikapi, mendalami konsep kekaryaan.

Bandar Lampung, 3 Juni 2025

David

 Penggiat seni rupa

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Seni rupa Lampung